Yang Terbuang dari Kemerdekaan

 
Permasalahan mental adalah dasar kelemahan bangsa ini. Membangun sebuah negara yang baik, harus dilandasi mental yang kuat dan tidak ingin kalah. Etos harus bangkit. Jangan lemah.

Bekerja seadanya, pikiran "yang penting saya digaji", tentu harus dilenyapkan. Etos kerja yang baik, dibangun berdasarkan mental yang baik. Bukan dengan pembangunan infrastruktur.

Bukan berarti infrastruktur tidak penting. Tapi negara ini butuh pembangunan infrastruktur mental. Infrastruktur mental harus dibangun jika ingin berdirinya negara ini tidak asal.

Pembangunan infrastruktur mental bisa dilaksanakan melalui pendidikan. Ya, ini akses terhadapnya harus dimudahkan. Tak lagi dimudahkan, tapi juga dipermudah.

Tapi, begitu sulit untuk membuatnya mudah jika semua hal di suatu negara dipolitisasi untuk kepentingan kelompok. Memolitisasi sesuatu, cenderung akan mengabaikan segelintir orang, walaupun mereka minoritas.

Alhasil, di era modern sekarang, di sebuah kota kecil ini, masih ada yang hidup layaknya kaum primitif. Tinggal di permukiman yang rumah-rumahnya sebagian besar tidak memiliki septitank. Kotoran mereka dibuang ke selokan. Kalau hujan, banjir, meluap. Bayangkan.

Masih ada di antara mereka yang tidak bisa baca-tulis. Tidak sekolah sejak lahir.

Mendengungkan pembangunan, tapi mereka tidak merasakannya. Memainkan kondisi mereka dengan politik kalian, sungguh tak disangka betapa kejinya.

Segelintir orang, masih ada yang tidak bisa menikmati seteguk air bersih. Air bersih bisa diperoleh setelah mengemis kepada pabrik. Airnya kotor dan katanya, itu air sisa dari pabrik.

Penguasa, pemilik tahta, cuma mengejar proyek. Rakus. Maruk. Tamak. Jangan menjadi pejabat kalau hanya untuk mendapat harta. Jangan besar kepala kalau sudah berada di ujung sana. Kejarlah proyek di mana pun itu jika ingin negara ini hancur tak karuan.

Kita belum merdeka. Jangan bangga dengan teks proklamasi kita. Itu masih awal. Sekarang pun masih.

Soreang, 16 Agustus 2016

Comments