Malangnya Hidup di Perkebunan Kina Bukit Unggul


Terlihat deretan rumah yang memanjang di sebelah kanan jalan ini. Di depannya, ada sepetak halaman yang diisi dengan tanaman. Ada pula rumah yang memiliki halaman cukup luas, beralaskan tanah merah. Luasnya cukuplah untuk bermain bola bagi anak-anak.

Kebanyakan dinding rumah di pemukiman ini terbuat dari bilik. Bagian bawah dinding terbuat dari tembok, sedangkan bagian atasnya, bilik. Dinding-dinding rumahnya sudah kotor kecoklatan, terutama pada bagian bawah dindingnya. Atapnya genteng berwarna merah. Warnanya sudah kehitam-hitaman.

Begitulah sedikit gambaran suasana di Kampung Pangli Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung. Siang hari, pekan lalu, tidak banyak aktifitas di kampung ini. Namun, selalu ada saja segelintir orang yang melintasi kampung ini, terutama di akhir pekan atau di hari libur. 
Biasanya mereka hendak mendaki ke puncak Gunung Bukit Unggul. Tak sedikit juga pengendara motor gunung yang melintasi Kampung Pangli ini. Karena memang jalannya penuh bebatuan dan menanjak.

Kiri-kanan hanyalah pepohonan rindang, yang tumbuh hingga ke atas bukit. Kebun Kina tumbuh di sekitar pemukiman warga kampung ini. Kebanyakan warga yang tinggal di kampung ini, pekerja PT Perkebunan Nusantara VIII. Kampung Pangli hanyalah salah satu wilayah perkebunan milik perusahaan plat merah itu.

Ada seorang tokoh yang sejak lahir dan besar tinggal di kampung ini. Tata Rahmat (52), namanya. Biasa dipanggil Pak Rahmat oleh orang sekitarnya. Ia hanya seorang pekerja lepas yang tidak dikontrak. Tugasnya sebagai mandor ini ia peroleh setelah menjadi pekerja lepas biasa selama 29 tahun.

Baru beberapa bulan belakangan, ia mulai bertugas sebagai seorang mandor lapangan. Tapi tidak dikontrak, hanya pekerja lepas. Upahnya per bulan Rp 1 juta. Namun, sudah satu setengah bulan, Rahmat tidak bekerja di kebun Kina itu. Hanya dia di kampung tersebut yang sama sekali tidak bisa bekerja karena tidak dikasih pekerjaan oleh PTPN.

"Yang enggak ada pisan (banget) itu bapak doang. Kalau orang lain kan kadang-kadang masih bisa mengambil hasil produksi kulit Kina," kata Rahmat di salah satu rumah yang berjejer itu.

Saat ini sejumlah pekerja lepas di kebun Kina di kawasan Bukit Unggul, jelas Rahmat, memang ada yang diberhentikan sementara. Tidak ada yang tahu kapan mereka akan dipekerjakan kembali. Yang pasti, mereka berharap tidak ada aturan dari PTPN VIII yang menyusahkan mereka mencari rezeki. "Semuanya lagi berhenti. Kalau pekerja tetap mah tetap, gaji mah ngucur," kata dia.

Dari informasi yang diperoleh Rahmat, kebun Kina di lahan PTPN VIII itu bakal dijual ke perusahaan swasta yang berpusat di Subang. Memang, kata dia, ini baru desas-desus. Namun, sejumlah karyawan PTPN sudah ada yang mengumumkan agar warga tidak lagi menanam sayuran atau apapun di lahan milik PTPN VIII ini.

Alasannya, ujar dia, lahan kebun Kina tersebut akan dijual karena sudah tidak produktif lagi. Bayangkan, dari satu petak yang terdiri dari 1000 pohon, kini hanya mampu memproduksi 15 ton kulit kina per masa panen. Padahal biasanya, di tahun-tahun sebelumnya, itu bisa mencapai 20 ton.

Warga pun gusar dengan larangan itu. Jika mereka tidak menanam sayuran di lahan yang tersedia, mereka mau makan apa? Karena itu, aturan tersebut diabaikan warga setempat. Rahmat sendiri, karena kondisinya sekarang yang kian tak menentu, dia sembari menanam tanaman sawi dan kol. "Warga enggak peduli," tutur dia.

Sehari-hari, Rahmat biasanya hanya berdiam di rumahnya seorang diri. Istri dan anak-anaknya ada di desa lain, tinggal dengan orang tuanya. Istri Rahmat sudah enggan hidup bersama. Pendapatan Rahmat sebagai tenaga lepas di lahan perkebunan Kina ini memang tidak cukup untuk memenuhi keluarga. Sehingga istrinya memutuskan untuk pisah rumah.

Sesekali Rahmat memantau tanaman sayurannya. Lewat hasil penjualan tanaman ini ia masih bisa makan. Terkadang ia bertahan hidup lewat pemberian sejumlah mahasiswa yang kerap melintasi kampungnya itu.

Rumahnya biasa digunakan untuk tempat menetap sementara bagi mahasiswa yang ingin mnanjak ke puncak gunung Bukit Unggul ataupun gunung sekitarnya. Rahmat sempat mendapat penghargaan dari Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam Universitas Pasundan, pada 2013 kemarin, karena dinilai telah berkontribusi menjaga lingkungan alam.

Di RW 7 Kampung Pangli Desa Panjalu ini, terdapat 20 pekerja tetap. Berbeda dengan dulu yang jumlahnya mencapai 84 orang. "Mungkin perusahaan lagi goyang sehingga banyak yang diberhentikan," ujar Rahmat.

Rahmat sudah menjadi pekerja lepas di situ sejak 1984, setelah lulus SD. Biasanya, mayoritas orang-orang di kampung ini hanya lulusan SD dan SMP. Sedikit yang lulusan SMA. "Saya sudah kerja bersih-bersih pohon Kina sejak lulus SD, penyiangan dan pemeliharaannya," ujar dia.

Sejak lulus SD itu, Rahmat sering membantu orang tuanya yang juga merupakan pekerja lepas di Desa Panjalu. Asal orang tua Rahmat berasal dari Kampung Pangalitan, Ujung Berung, Kota Bandung. Mereka memiliki 10 anak, dan Rahmat anak kelima.

Kondisi perekonomian dan geografis kampung ini, membuat warganya enggan bersekolah hingga ke tingkat SMA. Sedikit yang melanjutkan sekolah hingga SMA. Lokasinya pun sangat jauh dari sana. Satu-satunya yang terdekat adalah SMAN 1 Lembang. Kalau naik motor, dari SMAN 1 Lembang ke Desa Panjalu, kira-kira butuh waktu sekitar satu jam. Belum lagi harus melintasi jalan yang berbatu.

Untuk SMP, lokasinya ada di Desa Cibodas, yakni SMPN 4. Sekolah yang terdekat itu hanya SDN Cikapundung 1 yang memang berada di Kampung Cisarua Desa Cipanjalu. Biasanya, untuk berangkat ke sekolah, ada jemputan berupa mobil bak terbuka. Pungutan biayanya, satu orang Rp 10 ribu, pulang-pergi per hari.

"Di sini, yang lanjut ke SMP itu ada tiga orang. Kelas dua SMP ada dua orang, sedangkan kelas 1 SMP ada satu orang.

Kikin (48), warga lain di kampung ini, pun sudah tak lagi diberi pekerjaan. Pria ini pekerja lepas. Beruntung, ia masih memiliki sedikit dana, yang kemudian digunakannya untuk membuka warung kelontong di rumah. "Warung ini tiga tahun, untuk nambah-nambahin saja karena kecil gajinya," ujar dia.

Selain buka warung, Kikin mengaku juga menanam sejumlah sayuran di lahan belakang rumahnya. Bukan untuk apa-apa, tapi untuk memenuhi hajat kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Kini, ia hanya bisa berharap perusahaan dapat memberi dia dan warga lainnya pekerjaan di kebun.

Cara hidup warga di kampung ini terbilang jauh dari kata modern. Sebagian besar warga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Walaupun memang, kayu-kayu kering banyak terdapat di sekitar pemukiman. Di bagian luar rumah, banyak terlihat tumpukan-tumpukan kayu kering. Ya, ini bahan bakar mereka untuk memasak.

Bukan berarti warga di sana tidak tahu ada gas melon atau 3 kilogram. Namun, masalahnya, sangat jauh sekali lokasi penjualan atau agen gas melon, sehingga warga pun enggan membelinya. Kalaupun warga ingin menggunakan gas ini, mereka harus turun ke bawah, tepatnya ke wilayah desa Suntenjaya atau desa Cibodas.
"Di sini mah kalau ada uang lebih, baru pakai gas," ujar dia.
Sementara itu, Administratur Bukit Unggul PTPN VIII Salan Indrayani memberikan tanggapan terkait banyaknya tenaga lepas di wilayahnya yang diberhentikan sementara karena tidak mendapat pekerjaan.

Salan mengklaim tenaga lepas di kawasan kebun Kina masih tetap bekerja seperti sedia kala. Apalagi, kata dia, saat ini kebun Kina di sana sedang dalam masa panen. Panen ini pun dilakukan oleh tenaga lepas. "Tenaga lepas juga bekerja seperti biasa, baik panen maupun pemeliharaan kebun Kina," kata dia lewat pesan singkatnya.

Selain itu, Salan juga menanggapi ihwal kondisi produksi Kina di wilayah tugasnya itu. Menurut dia, kondisi produksi Kina saat ini tetap berjalan seperti biasanya. Bahkan, ia mengklaim produksi Kina pada 2015 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Ia tidak memberikan detil kenaikan produksi Kina tersebut. "Kondisi Kina berjalan seperti biasa, baik panen maupun pemeliharaan kebun," tutur dia.


Ma'Joya, Cimahi, 22/2/2016. Dimuat di 
Harian Republika pada Februari 2016

Comments