Imej Wartawan


Sekitar tiga hari yang lalu, lampu depan motor saya mati. Mesti dipukul-pukul dulu supaya lampunya hidup. Akhirnya, saya bawa motor itu ke bengkel sore hari, mendekati petang. Di bengkel itu, di kawasan Soreang tepatnya, saya duduk di sebuah bangku panjang.

Di samping saya, tampak seorang pria yang usianya sekitar 40-an. Ia terus memperhatikan saya, seolah saya orang asing. Memang, wajah saya tidak ada sunda-sundanya. Lalu dia menanyakan habis dari mana saya. "Dari Cimahi, pak," jawab saya.

Tidak berhenti di situ. Bapak ini kelihatan ingin tahu saya banget. Dia bersikap begini kemungkinan besar karena wajah saya memang sangat asing. "Kerja di sini?," tanya dia lagi. Saya jawab iya.

Dia bertanya lagi di mana saya bekerja. Saya jawab, "Di media pak, di koran." Begitulah. Kalau saya ditanya orang, di mana saya bekerja, jawabannya selalu, "Di media." Bukan apa-apa, tapi entah kenapa ini karena saya menganggap profesi wartawan itu selalu berimej buruk di mata masyarakat.

Imej buruk ini saya dapatkan lewat tetangga rumah saya di Jakarta. Tetangga ini teman dekat bapak saya. Dia seorang ustadz, sekaligus pak RT. Dia yang membuat saya berpikiran bahwa wartawan itu suka malak. Intinya, citra wartawan itu sudah jelek. Buruk, bagi tetangga ini. Dan ini cukup banyak memengaruhi saya, hingga sekarang.

Namun, saya mendapat pandangan berbeda tentang imej wartawan ketika bertemu dengan bapak ini. Saat dia terus bertanya-tanya tentang diri saya, ia seolah berusaha memastikan, "Kamu wartawan?"

Saya mengiyakan. Saat itu juga, saya terangkan ke dia, kerjaan saya ini di lapangan dan tidak seperti orang lain. Keliling-keliling ke warga. Boleh dibilang, jalan-jalan bertemu orang baru sembari wawancara. Mungkin pendapat saya tentang wartawan ini berbeda dengan bapak satu ini. Jadi saya tanya saja, "Kalau menurut bapak, wartawan itu memang gimana yah?"

Ingat betul saya dengan jawabannya. Kira-kira, jawaban dia begini, "Yaaa wartawan mah kayak relawan aja gitu. Kerjaannya mah ya gitu, buat masyarakat, ke masyarakat gitu. Kalau ada peristiwa, langsung ke sana. Beda, beda banget sama yang di kantor. Kalau yang di kantor mah buat nyari duit doang. Kalau wartawan kan, ya gitu kayak relawan, ke mana-mana kalau ada kejadian. Jalan-jalan mulu lah."

Benar-benar menggugah hati saya saat mendengar jawaban bapak ini. Sepertinya baru kali ini saya mendengar suara positif tentang wartawan, dari masyarakat.

Karena, selama menjadi wartawan satu tahun terakhir, selalu saja wartawan mendapat imej yang buruk dari masyarakat. Imej buruk wartawan ini bahkan sempat muncul dari satpam di SMA saya. Dari saya masih sekolah di SMA itu, sampai sekitar 6 tahun kemudian, satpam sekolah ini masih saja dia.

Dia langsung memaparkan beberapa pengalaman buruknya pada wartawan, setelah mengetahui saya jadi wartawan. Banyak pengalaman buruk soal sikap wartawan selama ia jadi satpam di SMA tempat saya belajar nakal itu. Misalnya, pernah ada dua orang berwajah angker, berjaket kulit, memaksa masuk ke dalam SMA. Mereka ingin menemui kepala sekolah.

Kejadian itu, kata satpam saya, saat saya duduk di kelas 2 SMA. Dua orang yang mengaku sebagai wartawan ini datang ke sekolah sambil membawa kalender di tangannya. Saat itu, karena si wartawan memaksa, akhirnya satpam membuka gerbang sekolah. Satpam mengarahkan mereka ke ruang kepala sekolah.

Setelah keluar dari ruang kepala sekolah itu, satpam bertanya ke pak kepsek itu. "Gimana pak?"

"Beres. Biasa, pengen kalendernya dibeli. Pengennya dibeli Rp 1 juta. Saya kasih saja Rp 100 ribu, diem habis itu," kata satpam yang bercerita menirukan omongan kepsek saat kejadian.

Kata satpam ini lagi, menjadi wartawan itu tidak bisa membuat orang kaya. Wartawan yang jujur itu tidak bisa kaya. Kalau mau kaya, ya jadi wartawan yang enggak bener seperti itu. Atau sekalian jadi pengusaha. Tapi ya sudahlah, bagi saya, jujur bukan berarti akan menjadi miskin. Hanya, fakta yang terjadi sering begini: Orang yang jujur lebih lama mencapai kekayaan ketimbang orang sebaliknya. Maksud kekayaan di sini, materi.

Apa salahnya, jika seorang wartawan beraktifitas sembari mendirikan dan membesarkan bisnisnya. Got it? Ideas are no one monopoly.


Soreang, 16/2/2016

Comments