Lika-liku Janda yang Terlena (3)


 
Kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama Cimahi kian meningkat dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang menyebabkan angka perceraian tersebut tinggi. Pengadilan Agama Cimahi sendiri meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

Wakil Panitera Pengadilan Agama Cimahi, Dedeng menuturkan, pada 2013 lalu, jumlah perceraian yang masuk ke pengadilan tersebut mencapai 5.000 kasus. Lalu meningkat pada 2014, yang totalnya mencapai lebih dari 6.000 perkara. "Jadi memang ada peningkatan. Nah di tahun ini (2015) sampai Agustus kemarin itu sudah sampai 5000 lebih," kata Dedeng belum lama ini.

Menurut dia, ada kemungkinan angka perceraian tersebut bakal terus meningkat hingga Desember 2015. Ia memperkirakan, tahun ini pihaknya akan menerima 7.000 kasus perceraian. "Bahkan lebih," ujar dia. Karena, pada Agustus 2015 saja, pengadilan agama Cimahi telah menerima kasus perceraian lebih dari 850 perkara. Perkara perceraian ini kebanyakan diajukan oleh pihak istri. "Sekitar 70 persen itu diajukan istri, sisanya suami," ujar dia.
Penyebab meningkatnya angka perceraian pun bervariasi. Ada yang karena faktor ekonomi dan juga orang ketiga. Namun, menurut Dedeng, perkembangan teknologi saat ini telah membantu memicu timbulnya keretakan dalam rumah tangga sehingga sampai pada perceraian.

"Karena ekonomi. Tidak ada tanggung jawab terhadap istri, enggak punya kerjaan karena di-PHK, ada perselingkuhan dan tidak terbuka dalam penghasilan, sampai ketidakharmonisan di rumah tangganya," ujar dia.

Selain itu, pihak ketiga pun banyak yang menjadi pemicunya. Pihak ketiga ini datang ke kehidupan suami biasanya melalui perkembangan teknologi saat ini. Salah satu teknologi yang bisa menimbulkan keretakan dalam rumah tangga, yakni ponsel.

Kata Dedeng, kebanyakan perceraian bermula dari situ. Dengan adanya ponsel, peluang untuk berselingkuh itu lebih besar. Misalnya, sering kali suami mengirim pesan-pesan yang menunjukan adanya keakraban dengan perempuan lain. "Ada karena pihak ketiga, wanita idaman lain. Faktor penyebab sekarang itu kebanyakan juga karena adanya handphone, apalagi lewat BBM (blackberry messanger)," tutur dia.

Dalam kondisi itulah, timbul rasa cemburu dari salah satu pihak suami ataupun istri. Terlebih, bahasa yang digunakan dalam pesan tersebut pun terbilang mesra dan amat berbeda ketika berbicara dengan pasangannya. "Biasanya masalah SMS (pesan singkat), bahasanya kok berbeda saat bicara ke orang lain. Ada mesra-mesranya dengan orang lain," ujar dia.

Kemudian, dari faktor ekonomi, misalnya, istri ditinggal dalam waktu yang lama sehingga tidak mendapat perhatian. Apalagi, kebanyakan penyebabnya juga karena suami tidak mengirim biaya saat bekerja jauh dari istri. "Ada juga karena tidak ada tanggung jawab itu," ujar dia. Sebenarnya, menurut Dedeng, faktor ekonomi berawal karena suami sering kali tidak terbuka mengenai pendapatan yang biasa diperolehnya.

Daerah yang paling banyak mengajukan cerai pun merata. "Soreang banyak, Cimahi banyak, Bandung Barat juga. Ya merata." Bahkan, warga yang dari daerah ujung kabupaten, seperti Gunung Halu, Sindangkerta, Nagreg, pun banyak yang ke pengadilan agama Cimahi di Soreang, Kabupaten Bandung, untuk mengajukan cerai.

"Jadi sekarang tidak dilihat apakah orang kota atau apakah orang desanya yang paling banyak mengajukan, karena kan tingkat SDM-nya juga sama sekarang," ujar dia.

Salah seorang warga Desa Sindanglaya Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Neng Ranti, sudah sekitar dua bulan yang lalu mendatangi Pengadilan Agama Cimahi untuk mengajukan perceraian. Pada akhir September kemarin, ia kembali lagi ke Soreang, tempat kantor Pengadilan Agama Cimahi berada, untuk mengambil berkas terakhir dan pembayaran.

Ranti menggugat cerai suaminya lantaran ia merasa pendapatan suami tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Suami Ranti bekerja di sebuah bengkel. Pendapatan yang biasa diberi per hari oleh suaminya itu Rp 25 ribu. Namun, kadang tak menentu. "Suami enggak bisa mencukupi. Nafkah yang dia kasih kurang, terus egois juga," kata dia kepada Republika.

Usia pernikahan Ranti dan suaminya sudah 15 tahun. Sedari dulu, suaminya bekerja di bengkel. Sebenarnya, Ranti merasa, sejak awal-awal pernikahan, nafkah yang diberikan oleh suaminya itu selalu kurang. "Dari dulu kurang sebenarnya, tapi saya mah sabar, mungkin memang sudah rezekinya," ujar dia.

Kebutuhan sehari-harinya, seperti makan, susu anak, sekolah anak, itu sulit terpenuhi oleh suaminya. "Kebutuhan aku sama anak-anak enggak terpenuhi." Ranti pun mengaku, suaminya tidak pernah membeberkan berapa pendapatan yang diperolehnya. "(Saya) enggak pernah tahu (pendapatan suami), dia juga enggak ngasih tahu," kata dia.

Puncak kesabarannya habis pada dua tahun yang lalu. Lewat lebe, ia cerai dengan suaminya pada dua tahun yang lalu itu. Tapi belum resmi. Ia menyadari, untuk bisa cerai secara resmi, memang diperlukan dana. Namun, suaminya kala itu tidak ingin memberikan uang sepeser pun untuk mengajukan perkara perceraian itu. "Kan pengen status yang jelas biar nyaman, tapi dia gantungin saya."

Sejak dua tahun lalu, ia tak pernah mendapatkan uang dari suaminya. Namun, ia mengakui, kadang suaminya itu memberi uang jajan untuk anak-anaknya sekolah. "Dari dua tahun lalu sudah benar-benar enggak dapat nafkah dari suami. Benar-benar enggak dapat, paling dia ngasihnya ke anak-anak saja," kata perempuan kelahiran 1976 ini.

Untuk mencukupi kebutuhannya, Ranti sempat bekerja di sebuah pabrik. Namun, tidak berlangsung lama, hanya dua bulan. Ia tak bisa meninggalkan anak-anaknya lama-lama. "Terus keluar karena kasihan anak-anak, enggak yang ngurus kan." Beruntung, kebutuhan sehari-harinya masih bisa dibantu oleh kakak dan orang tuanya.

Sekarang pun, kebutuhan sekolah untuk anak-anaknya dibantu oleh kakaknya, sedangkan makan sehari-hari oleh orang tuanya. "Lagian aku juga suka dititipi anak keponakan, jadi suka dikasih uang sama keponakan, jadi buat keperluan sehari-hari lumayan terpenuhi," tutur dia. Buah pernikahan Ranti dan suaminya menghasilkan dua anak. Anak pertama sudah menginjak sekolah SMA, dan anak kedua kelas 3 SD.

Karena pengalamannya inilah, Ranti menjadi khawatir untuk menikah lagi. Ia khawatir kondisi serupa akan terulang. "Zaman sekarang laki-laki banyak bohongnya. Iya memang enggak semuanya, tapi susah aja nyari laki-laki yang tepat." Bahkan, ia sampai merasa tidak tertarik lagi dengan laki-laki. Keluarganya hendak menjodohkan Ranti dengan laki-laki lain. Tapi, ia tidak mau.

Untuk ke depannya, Ranti masih ingin melanjutkan rencananya mendirikan sebuah butik. Ya, dari dulu, Ranti ingin sekali memiliki sebuah toko butik. Hanya saja, rencananya itu sulit dipenuhi suaminya. Namun, karena terkendala modal, ia pun tak tahu harus bagaimana lagi. "Seiring berjalannya waktu aku ikuti aja rencana Allah, mau dibawa ke kiri aku ikut, mau dibawa ke kanan juga aku ikut," kata dia.

Soreang, 5 Oktober 2015

Tulisan ini dimuat di Republika Online/ROL (13 Desember 2015).
Tulisan ini merupakan versi asli buatan penulis.

Bersambung ke "Lika-liku Janda yang Terlena (4)

Comments