Eksotisme Cemara di Lawu


“Kabut dingin merendah| Perlahan datang menyapa| Semak-semak tanah basah| Langkah kaki seiring| Pandangan hijau terhampar| Di tepi hutan cemara|


Penggalan lagu Meniti Hutan Cemara ciptaan Katon Bagaskara, ini mungkin bisa memberikan gambaran suasana saat menaiki Gunung Lawu. Gunung yang terletak di perbatasan antara Magetan Jawa Timur, dan Karanganyar Jawa Tengah, memiliki pesona alam yang indah. Pepohonan yang menjulang tinggi, tumbuh lebat bersama dedaunan yang meneduhkan perjalanan.



****

Malam itu, gerbang masuk menuju Gunung Lawu ramai didatangi para wisatawan. Ada yang menggunakan motor, ada pula yang berombongan menggunakan bus besar. Bahkan, ada yang datang sendiri malam itu dengan vespa antiknya. Ternyata, ia wong Solo yang sedang ingin jalan-jalan saja.

Mereka yang datang pada malam itu, tampak membawa bekal begitu banyak. Tas-tas yang digembloknya tinggi-tinggi, melebihi tinggi kepalanya. Sebagian dari mereka ada yang beristirahat di basecamp gunung Lawu yang kini telah menjadi taman nasional. Sebagian yang lain, ada yang langsung mendaki gunung Lawu pada malam itu.

Saat memasuki gerbang masuk gunung ini, langkah kaki akan selalu menginjakkan bebatuan yang tersusun rapi hingga ke atas gunung. Barang kali, trek bebatuan ini bisa mengobati Anda yang mengidam penyakit rheumatik. Di sekeliling, hutan lebat. Dari awal pintu masuk, jalur pendakian sudah menanjak.

Sebenarnya, ada dua pintu masuk untuk mendaki gunung Lawu. Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Trek pendakian melalui Cemoro Sewu lebih melelahkan, karena dari awal, treknya sudah menanjak. Tapi, jarak menuju puncak lebih singkat ketimbang Cemoro Kandang.


Meski lebih panjang, trek Cemoro Kandang lebih asyik karena treknya yang mendatar. Kebanyakan para pendaki lebih memilih berangkat lewat Cemoro Kandang, dan turun lewat Cemoro Sewu karena lebih cepat.

Lama perjalanan dari kaki gunung menuju puncak, itu sekitar 7 sampai 9 jam. Tergantung cepat atau tidaknya kita mendaki. Biasanya, para pendaki tidak mendaki langsung menuju puncak. Tapi, mereka berkemah terlebih dahulu, di pos-pos yang berada di bawah dekat puncak. Seperti pos 5. Di pos ini, terhampar padang rumput yang luas layaknya lapangan bola. Tapi tidak seluas lapangan bola. Dari situlah, kita juga bisa melihat pemandangan perkotaan yang semuanya tampak hijau dengan diselimuti kabut.

Pos yang paling enak untuk dilewati, pos 3 hingga pos 5. Bisa dibilang, di pos itulah, trek sudah lumayan ringan. Memang, harus diakui, pos yang paling melelahkan, dari pos 1 sampai pos 3. Jarak dari basecamp menuju pos 1 juga terbilang jauh. Dan, dari pos 1 menuju pos 3 juga butuh kesabaran dan ketabahan, karena butuh waktu 3 sampai 5 jam untuk sampai di pos 3. Barulah, setelah sampai di pos 3, kita bisa merebahkan diri sejenak.

Di dekat pos 5, di pinggir trek, kita akan menemukan sumur Jolotundo. Sumur ini seperti goa vertikal. Dinding-dindingnya terbentuk dari bebatuan bercampur tanah. Di sumur tersebut, jika beruntung, Anda bisa mendapatkan air. Tapi, untuk mendapatkannya, memang butuh kerja ekstra dan kewaspadaan karena bentuk sumurnya yang menjorok ke bawah.


Untuk mendapatkan air di gunung ini, tidak hanya dari sumur Jolotundo. Ada satu lagi, namanya Sendang Derajat. Ini tidak tampak seperti sumur yang menjorok ke bawah. Namun, itu adalah tempat di mana tanahnya mengeluarkan air. Untuk mengambil airnya, kita harus menuruni anak tangga yang dibentuk dari batu. Dinding-dinding di sekitar air itu terbentuk dari tumpukan batu-batu kali. Pernah suatu kali air di Sendang Derajat habis.

Namun, itu bukan kendala bagi para pendaki. Sebab, betapa tidak, di gunung ini, ada banyak warung-warung makan. Warung tersebut akan kita temukan di Sendang Derajat, ataupun setelahnya. Di Sendang Derajat ini juga, berdiri sebuah pendopo. Warga setempat ataupun wisatawan lokal, sering menaruh dupa di pendopo ini. Jika kita mendirikan tenda di belakang atau di sekitar pendopo ini, tentu akan tercium wangi khas dupa.

Warung yang terkenal di gunung ini, namanya Mbok Yem. Ya, nama ini mungkin sudah tidak asing bagi Anda yang sudah pernah mendaki gunung ini. Anda pun bisa beristirahat di warung ini, kalau mau. Di warung ini, ada listrik. Kita pun bisa menonton televisi.

Mereka menggunakan genset untuk listrik. Kadang, jika kita hendak mendaki, warga-warga setempat melewati kita sambil membopong derijen yang berisi bensin. Tak hanya bensin, mereka juga ada yang membawa makanan-makanan ringan untuk dijual di dalam gunung.

Dari Sendang Derajat menuju Puncak Hargo Dumilah, setinggi 3165 meter di bawah permukaan laut (mdpl), lamanya sekitar 1 jam. Sebentar. Suasana yang eksotis, akan kita dapatkan jika menikmati sunrise di puncak Hargo Dumilah. Dingin dan angin yang menusuk pori-pori kulit hingga tulang, amat terasa. Anginnya berhembus bukan secara sepoi-sepoi, tapi berhembus kencang.


Menurut warga, gunung Lawu ini pada dahulu kala sebenarnya berada di dasar laut. Memang belum ada penelitian lebih lanjut. Namun, itu bisa dilihat dari jenis bebatuan yang ada di gunung Lawu. Jenisnya kebanyakan adalah karang yang memang dapat ditemukan di dasar laut.

Bahkan, spekulasi bahwa gunung ini merupakan gunung purba, bisa dilihat dari jenis flora dan fauna yang ada di dalamnya. Misalnya, ada Elang Jawa, dan Harimau. Pohon cemara gunung, edelweiss, Anggrek Lawu, pun kerap menghiasi perjalanan kita di gunung ini.

Selain itu, gunung ini juga dianggap sebagai gunung yang tertua. Sebab, cerita sejarah yang mengisahkan peristiwa di sekitar gunung Lawu, yakni Babad Lawu dan Banjaran Lawu, pun sudah ada sejak dahulu. Gunung tersebut hingga kini juga masih mengeluarkan bau belerang. Bisa dibilang, gunung ini aktif. Namun, saat ini masih “tertidur pulas”.

Sesekali, ajaklah keluarga atau kerabat Anda ke sini.


Comments

Anonymous said…
mantaap ni tulisan