Ini Enak lho...!!

“Ayo beli mas, enak nich mas.” Seru Bu Ilah (50) pedagang otak-otak ikan saat menawarkan daganganya ke para penglalu-lalang di Pasar Muara Angke. Dengan suara khas ibu-ibu yang agak cempreng, dia menyerukan, “mari mampir dulu mas.”

Di malam yang diterangi lampu-lampu jalan dan kedai yang temaram, penglalu-lalang terus mengabaikan tanpa sedikit toleh saat melewati Kedai Surapraja miliknya. Kedainya berada di atas trotoar jalan yang berkondisi sangat becek dikarenakan para pedagang ikan yang lain.

“Dagang ini mah untungnya dikit mas,” keluhnya sembari menyapu keringat di keningnya. Dia berjualan dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam, kadang hanya memeproleh utung bersih 50 ribu. Itu pun dikarenakan diatidak sendirian, tapi masih banyak sekitar belasan kedai otak-otak ikan yang menjadi saingannya.

Dia pun berterus terang, “dagang beginian emang harus bawel, kalau saya diam nanti pembelinya keburu direbut kedai lain.” Lanjutnya capek-capek datang ke sini becek-becek, basah-basahan, eh malah enggak laku.

Seperti perkataan khas dari Cinta Laura, “udah ujan, becek, enggak ada ojek pula.” Dia tak mau gampang menyerah begitu saja oleh yang para pedagang muda lainnya. Katanya, “walau umur saya udah setengah abad, saya masih bisa kok jualan dengan teriak-teriak.” Jawab serontakku, “ya iyalah, enyak-enyak mau umur berapa aja juga suaranya tetap cempreng.”

“Paling kecil saya dapat untung 50 ribu, itu pun karena di hari-hari orang kerja,” ungkap Ilah sembari mengibas otak-otak yang sedang dibakarnya. “tapi apa itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga ibu?” tanyaku serontak. “Ya dicukup-cukupin aja,” jawabnya dengan suara alunan santai.

Dia mengakui kalau penghasilannya sehari-hari memang pas-pasan. Tapi yang mencengangkan ketika berjualan di hari-hari libur. Dia bisa memperoleh keuntungan sampai berlipat-lipat dari hari-hari biasa.

“Apalagi kalau di hari libur, saya dapat untung gede,” lanjutnya sambil membolak-balikkan otak-otaknya di tungku areng.

Tapi dia merasa aneh untuk hari-hari libur sekarang, apalagi  mendekati tahun baru 2010. Seharusnya para pengunjung pasarnya bejubel, sekarang malah lebih lowong. Terlebih ketika terjadi kenaikan BBM, dampaknya cukup dirasakan Bu Ilah.

Komentarnya, “kenaikkan BBM kemaren memang cukup berdampak terhadap pedagang otak-otak seperti saya, walaupun tak begitu besar. Seharusnya saya bisa untung 100 ribu, malah cuma dapat gocap doang,” keluh Ilah dengan perasaan yang tampak memilukan.

Dengan membeli bahan bakunya ikan mata goyang yang berharga 20 ribu per kilo, bisa memproduksi 500 biji otak-otak. “emang sih, dagang beginian enggak perlu banyak modal, tapi karena modal yang sedikit itulah saya pilih ini untuk mencari nafkah keluarga saya.”

Suami Ilah sudah lama meninggal dunia karena menderita diare yang berkepanjangan. “Ke dokter pun tak punya duit, ya udah terpaksa dirawat di rumah aja dengan ala kadarnya.” Kala suaminya tiada, dia menjadi tulang punggung keluarganya. Dia pun memutuskan untuk berjualan otak-otak di pasar ini. Warga asli Muara Angke memang terlakoninya.

Alasannya memilih otak-otak dan Pasar Muara Angke sebagai alat pencari nafkah, tidak lain karena lokasinya yang dekat dengan rumahnya. “Kalau jualannya jauh dari rumah saya, saya bisa tekor, belum ngongkosnya, belum capeknya, saya kan udah tua,” celotehnya dengan logat khas betawinya.

Tapi dia bersyukur, dengan penghasilan seperti ini bisa menghidupi lima anaknya. Dua anak pertamanya pun telah menikah dan anak ketiganya mampu dikuliahkan.


Ditulis kalau tak salah pada akhir 2009.
Iseng memposting tulisan terdahulu saat baru belajar nulis

Comments