Kembali


 
Tepat pada Sabtu, 1 Oktober 2016, aku kembali ke Jakarta setelah selama satu tahun setengah lebih, bertugas di tanah priangan. Cukup puas aku bertugas di tiga wilayah itu meski ada hal yang luput dari tugasku.

Sekarang, aku terpaksa kembali ke tanah ibu kota yang semrawut ini. Sengaja aku katakan semrawut karena memang adanya demikian. Tidak mengarah dan itu fakta. Bahkan sekarang makin menjadi-jadi.

Itu yang paling aku sesalkan ketika aku dipindahtugaskan di ibu kota. Aku malas menghadapi kondisi yang mengharuskan diri berlama-lama di jalan. Penuh keruwetan. Aku tak bisa membayangkan, berangkat pagi dan pulang malam.


Mungkin nanti, pekerjaan sudah selesai di sore hari. Tapi di waktu sore tentu macet banget dan aku pun enggan untuk pulang di waktu itu. Sehingga, waktu kepulangan sepertinya harus ditunda hingga malam untuk menunggu arus lalu lintas sampai tidak sepadat sore hari.

Tapi ya sudahlah. Setidaknya kita tahu itu masalah dan tentu harus "disikat".

Tidak hanya pada persoalan transportasi yang menyebabkan kemacetan, tapi juga soal udara segar. Ya, mungkin masalah udara ini dipengaruhi persoalan kemacetan itu. Semakin banyak transportasi, semakin banyak karbon dioksida yang keluar, semakin buruklah kualitas udara di ibu kota.

Di sana, aku bisa menikmati udara segar. Dingin dan sejuk. Di sini, boro-boro. Pengap. Tapi apa daya, aku harus menyelesaikan tugas di ibu kota dengan totalitas. Aku akan curahkan semua tenaga dan pikiran ini saat aku ditugaskan di sini.

Namun, terlepas dari masalah ibu kota, di sini, aku bisa bertemu keluarga kembali. Bertemu sosok yang telah membesarkanku. Saat sampai di rumah, aku pun harus membenahi barang-barang kiriman dari tempat tugasku yang sebelumnya. Barang-barang di rumahku pun jadi menumpuk karena banyaknya barang kiriman itu.

Ada pakaian, dan perlengkapan lain. Dampaknya, dia akan terus bawel dengan tumpukan barang-barangku. Mau bagaimana lagi, barang-barang di sini memang sudah padat karena bertambahnya satu jiwa. Tidak harus dibuang, tapi ya tinggal ditata.

Dan juga, kembali ke tanah tempat aku dilahirkan. Ya, di sinilah, aku bergumul dengan orang-orang yang waktu kelahirannya seangkatan denganku.

Daerah rumahku ini mudah banjir. Rumah ini saja saat dibangun sampai harus ditinggikan. Salah satu faktornya, mungkin karena letaknya di dataran rendah. Di dataran terendah ini ada sebuah rawa yang biasa dijadikan tempat untuk memancing. Dulu biasa digunakan sebagai kolam renang anak-anak sini. Airnya hijau dan kotor. Kalau aku, tidak ingin dan tak pernah berenang di rawa itu.

Ditulis pada 2 Okto 2016, Kp Gedong. 

Comments

YOMAN said…
This comment has been removed by the author.