Beberapa Kata dalam Bahasa Daerah yang Diserap Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia tidak lahir dengan sendirinya. Ia lahir karena perpaduan bahasa yang digunakan di wilayah nusantara.

Bangsa seperti Belanda, Inggris, Portugis, Cina, dan Arab, adalah negara yang telah menyumbangkan bahasanya ke dalam bahasa indonesia.

JANGAN MAIN ASAL JIPLAK!!! JADILAH MAHASISWA YANG RAJIN!!! JANGAN MALAS!!!
TULISAN INI SENGAJA DIPUBLISH BIAR LU PINTER, BUKAN BIKIN BODOH!!!

Namun, tak hanya itu, beberapa bahasa yang menjadi bagian dari wilayah nusantara pun turut andil dalam memperluas khazanah bahasa Indonesia.

Misal, bahasa Jawa, Batak, Palembang, Jakarta, dan Ambon. Dalam hal ini, penulis akan memaparkan bahasa daerah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Berikut pemaparannya:

1. Ambles (biasa disebut ‘amblas’): kata ini berasal dari Bahasa Jawa, yang memiliki arti “turun”, dan “tenggelam”. Dalam bahasa sehari-hari, saat masyarakat menyebutnya dengan kata “amblas”, kata ini pun mengalami pergerseran makna, diartikan sebagai "hilang", dan "lenyap".

2. Kanceh: Kata ini berasal dari daerah Minangkabau, yang berarti “kerdil”, “tidak bisa jadi besar”.

3. Awik-awik, adalah kata yang berasal dari Bali. Artinya, sesuai KBBI, adalah hukum adat berupa peraturan atau undang-undang yang disusun dan ditetapkan oleh anggota masyarakat desa, banjar dan subak tentang aspek kehidupan seperti agama, budaya, dan sosial-ekonomi, di Bali. Dapat dikatakan, cara KBBI dalam menjelaskan makna "awik-awik" menggunakan 'definisi'.

4. Asoi: Kata ini berasal dari suku sunda, yang berarti “menyenangkan”, dan “bergerak sedikit-dikit”. Kita mungkin sering mendengar kata ini digabungkan dengan “geboy”, yang menjadi kata tersebut memiliki unsur “amat”, dan “sangat”.

5. Kuririk: Berasal dari Minangkabau, dan memiliki arti “Jangkrik”.

6. Molek: Siapa sangka, kata ini berasal dari suku “batak”, yang berarti “cantik”, “indah”, dan “bagus”.

7. Butut: Kata ini berasal dari “Jakarta”, tepatnya bahasa betawi. Kata tersebut memiliki arti “jelek”, dan “tua”.

8. Santai: Kata ini berasal dari bahasa "Palembang". Artinya, "seenaknya", dan "tidak bersungguh-sungguh".

9. Beta: Kata ini berasal dari bahasa Ambon, yang berarti "aku", "saya", dan "orang pertama".

 

Kata-kata lainnya:

Bablas: Jawa

Babut: Jawa

Lugu: Jawa

Sansai: Minangkabau. Arti: Sengsara; derita; sedih sekali.

Santer: Jawa. Arti: Kencang; keras; nyaring.

Lamping: Jakarta. Arti: Lereng (gunung).

Kuririk: Minangkabau. Arti: Jangkrik.

Cangap: Minangkabau. Arti: Rakus.

Anjangsana: Sunda. Arti: Berkunjung karena rindu.

Asoi: Sunda. Arti: Menyenangkan; bergerak sedikit-dikit.

Molek: Batak. Arti: Cantik; indah; bagus.

Mendingan: Sunda. Arti: lebih baik.

Lugas: Jawa kuno. Arti: Beres; tanpa hiasan; apa adanya.

Majikan: Sunda. Arti: Tuan; bendahara; orang kaya.

Buyar: Jakarta. Arti: Tidak berpusat; bercerai-berai.

Cabul: Minangkabau. Arti: Porno; kotor.

Cermin: Jakarta. Arti: Kaca untuk berhias.

Ciri: Jakarta. Arti: Tanda; bukti.

Disarikan dari:

Chair, Abdul. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2002.

Ngajenan, Mohamad. Kamus Etimologi Bahasa Indonesia. Semarang: Dahara Prize. 1990.

Comments

Unknown said…
ini yg gue cari
thankss!
Unknown said…
Butut itu dari bahasa Sunda.