Monday, 10 April 2017

lalu-kini

Seorang kakek tua termenung di atas kursi goyangnya. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Atap-atap genteng merah membentang di balik jendela itu. Tangannya terkepal, gemetar. Dari mulutnya keluar suara-suara gemeretak.

Binar matanya terperanjat dalam masa lalu bangsanya. Masa yang kelam, penuh intrik, keributan, protes sana-sini, tak jelas mana yang benar mana yang salah, semua abu-abu.

Ia teringat ketika orang-orang berpakaian putih meneriakan protes.

Ia teringat ketika manusia berseragam coklat berceloteh di mana-mana mengumbar benci sesama, menyemburkan api di tengah kering-kerontang.

Ia teringat dua pasang saling beradu di detik terakhir. Menonjolkan keunggulannya, menutupi kotorannya dengan daun pisang, menjajakan diri di kerumunan, menyuguhkan senyum di barisan luka.

Pikirnya saat itu, "Aku bukanlah berpengetahuan besar, aku bukanlah berkuasa di bumi dan langit."

"Tapi aku tahu, ujung dari politik adalah proyek. Pembangunan semu adalah yang mengutamakan fisik semata, berharap rido dari rakyat."

Ia percaya, hanya hawa nafsu yang menilai sebuah kecantikan saat memandangnya.

Ia teringat ketika orang-orang menganggap kesalahan sebagai kebenaran. Sedangkan kebenaran terus tertutupi lidah-lidah penjilat.

Ia teringat ketika orang berlarian mengejar ketamakan. Mengubah satu menjadi dua, mengubah empat menjadi seratus, berlipat-lipat, hingga kesenjangan pun terjadi.

Mereka simpan di semenanjung samudera,biar abadi hingga tujuh generasi. Tapi jutaan yang lain menatap sedi, merugi.

Biarkan masa sekarang hidup menyendiri, sehingga masa depan tak kena imbasnya. Biarkan air hulu mengalir, hingga hilir pun merasakan jernihnya.

Seseorang tiba-tiba memecah pikirannya. "Mereka sudah menanti, menanti kau sapa," kata orang itu.

Ia pun beranjak dari kursi. Berjalan gontai dengan kaki ketiganya. Menelan pil pahit masa lalu.

Selasa, 11/4/17, dini hari, Kp. Gedong

Sunday, 9 April 2017

Just Do It

Orang bilang bisnis itu butuh tekad, perjuangan, dan kreatif. Banyak juga yang bilang, bisnis itu tidak harus menggunakan modal yang banyak. Modal bisa dicari, dan bisa diakal-akali.

Apakah benar? Jawabannya ada saat kita sedang dan sudah melaksanakannya.

JUST DO IT. Don't think too much. Think big, think fast, think ahead. Ya, kata-kata ini yang kusuka.

9 April, '17, Kp Gedong

Friday, 28 October 2016

Begitu

Menatap manis penuh makna

Lebarnya senyum yang kau torehkan

Meski dia hanya manusia biasa

Berjalan di atas kerikil penuh gairah

Terus memandang dengan matamu yang berbinar

Aku sungguh tak kuasa, terkadang

Melihat seseorang sepertimu

Hati yang tetap teguh, berupaya menembus ruang kegelapan

Aku tak tahu bagaimana nanti

Bagiku, ini sebuah perjalanan yang takkan ada habisnya

Kadang kau bosan, kadang kau akan tunjukan rasa tak suka

Aku tak pintar, aku tak seperti siapapun

Suatu saat, aku akan berbuat salah

Dan kau, mungkin akan bicara panjang lebar, tentang harusnya aku

Aku masih tak seperti yang kau harapkan

Tapi kau ingin harapanmu tentangku terlaksana

Hampanya ruangku, luasnya ruangmu

Dan kau, terus gelorakan ruangmu kepadaku

Sampai ruangku seperti saat ini

Ceria, penuh gelora, senyum yang merekah

Ya, begitulah

Duduklah dahulu, ada saatnya kau akan berdiri

Menerawang celah cahaya

Melangkah, perlahan, di tengah ramai

Pada akhirnya, singgah di jalan semula, tumbuh di ruang yang kita bangun





Saturday, 1 October 2016

Kembali

Tepat pada Sabtu, 1 Oktober 2016, aku kembali ke Jakarta setelah selama satu tahun setengah lebih, bertugas di tanah priangan. Cukup puas aku bertugas di tiga wilayah itu meski ada hal yang luput dari tugasku.

Sekarang, aku terpaksa kembali ke tanah ibu kota yang semrawut ini. Sengaja aku katakan semrawut karena memang adanya demikian. Tidak mengarah dan itu fakta. Bahkan sekarang makin menjadi-jadi.

Itu yang paling aku sesalkan ketika aku dipindahtugaskan di ibu kota. Aku malas menghadapi kondisi yang mengharuskan diri berlama-lama di jalan. Penuh keruwetan. Aku tak bisa membayangkan, berangkat pagi dan pulang malam.

Monday, 5 September 2016

the Bangrengs (2)

Sebuah warung tegak berdiri di hadapanku. Pintunya dari bahan besi aluminium, lantainya putih kotor dan beberapa ubin sudah ada yang retak. Di depan pintu besi warung, ada meja-meja yang rapi berjejer. Bahan mejanya dari kayu, dan permukaan di atasnya dilapisi sebuah banner. Yah, biar gampang bersihinnya. Di samping warung ini pun ada warung lagi. Sederet bangunan ini memang warung yang menjual bermacam-macam makanan berat.

Warung itu berada di pusaran Pemerintahan Kabupaten Dambung. Bayangkan, kalau siang, warung selalu ramai karena menjadi tempat makan bagi para PNS Kabupaten Dambung dari sejumlah dinas. Ada PNS ibu-ibu, ada PNS teteh-teteh, ada PNS laki-laki tua tapi masih genit, ada PNS muda yang terlihat pintar tapi sebetulnya bloon.

Jangan salah, warung ini tidak hanya dihuni pekerja berseragam, tapi juga pekerja berpakaian bebas. Ya, wartawan, jurnalis, pewarta, apalah namanya.

"Dari mana, Ram, ada berita apa nih?" kata Erde bertanya kepadaku yang baru saja tiba di warung.

"Yah dari kosan. Baru bangun, langsung ke sini deh. Belum dapat apa-apa," ujarku menimpal.

Warung Ibu Tati ini memang selalu menjadi tempat berkumpulnya para pewarta. Kami sering ke sini bukan karena makanannya yang enak atau lezat, tapi karena lokasinya yang strategis, dan pemilik warung, Bu Tati, yang lumayan supel dengan pelanggan. Ia memang selalu mudah dekat dengan siapapun, termasuk dengan pewarta. Bahkan terkadang ia menjadi sumber informasi. Dadang namanya dikorbankan, karena dicatut untuk dipakai dalam berita sebagai salah satu narasumber. Padahal mah boro-boro wawancara. Itu hanya perkiraan pewarta untuk mengejawantahkan pemikiran dari Bu Tati dan yang dialaminya. Alasanku saja.

Di depan warung ini, berjejerlah motor-motor kami. Yah, motorku-lah yang paling butut. Motor ku kelahiran 1997, asli oriental dari Jepang. Sedangkan motor-motor pewarta lain beuh tahun pembuatannya tergolong baru, yaitu tahun 2010 ke sini. Masih bisa dibilang baru yah.

Warung Bu Tati adalah kantor bagi kami. Tempat menelpon narasumber, nulis berita, tempat mengisi perut kala lapar mendera, tempat menyeruput kopi sembari nulis berita, tempat ngomongin isu yang hot, dan terakhir, (camkan baik-baik) tempat gibah. O iya satu lagi yang terakhir, tempat bagi-bagi duit.

Kisah dalam tulisan ini fiktif tapi terinspirasi kenyataan. (5/9/16)