Friday, 3 August 2018

Rumah Sakit Pasir Junghuhn, Peninggalan Belanda yang Bertahan di Tengah Modernitas

Siang itu, saya bersama kerabat tiba di bangunan tua di kawasan perkebunan di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Suasana depan bangunan ini tampak sepi. Hanya ada beberapa motor yang diparkirkan di halaman depannya. Lokasinya sendiri berada cukup jauh dari kawasan perkebunan. Akses jalannya rusak tak karuan. Kendaraan melaju seolah sedang digoyang gempa.

Di sisi kiri bangunan rumah sakit, terpampang sebuah tulisan, "PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) Rumah Sakit Pasir Junghuhn". Ya, bangunan tua ini adalah Rumah Sakit Pasir Junghuhn, yang berlokasi di Kampung Pasir Junghuhn Desa Wanasuka Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Halaman depan rumah sakit ini berupa aspal yang sudah rusak karena terkelupas. Penuh bebatuan kecil. Sederet pintu dan jendela menyatu dengan dinding bagian depan rumah sakit. Bentuk kusen pintu dan jendelanya, bermodel jadul alias jaman dulu. Warnanya abu-abu. Dindingnya hijau muda dan sudah agak kusam. Beberapa tiang penyangga tegak berdiri di bagian muka ini. Langit-langitnya tampak sudah ada yang bolong-bolong.

Monday, 10 April 2017

lalu-kini

Seorang kakek tua termenung di atas kursi goyangnya. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Atap-atap genteng merah membentang di balik jendela itu. Tangannya terkepal, gemetar. Dari mulutnya keluar suara-suara gemeretak.

Binar matanya terperanjat dalam masa lalu bangsanya. Masa yang kelam, penuh intrik, keributan, protes sana-sini, tak jelas mana yang benar mana yang salah, semua abu-abu.

Ia teringat ketika orang-orang berpakaian putih meneriakan protes.

Ia teringat ketika manusia berseragam coklat berceloteh di mana-mana mengumbar benci sesama, menyemburkan api di tengah kering-kerontang.

Ia teringat dua pasang saling beradu di detik terakhir. Menonjolkan keunggulannya, menutupi kotorannya dengan daun pisang, menjajakan diri di kerumunan, menyuguhkan senyum di barisan luka.

Pikirnya saat itu, "Aku bukanlah berpengetahuan besar, aku bukanlah berkuasa di bumi dan langit."

"Tapi aku tahu, ujung dari politik adalah proyek. Pembangunan semu adalah yang mengutamakan fisik semata, berharap rido dari rakyat."

Ia percaya, hanya hawa nafsu yang menilai sebuah kecantikan saat memandangnya.

Ia teringat ketika orang-orang menganggap kesalahan sebagai kebenaran. Sedangkan kebenaran terus tertutupi lidah-lidah penjilat.

Ia teringat ketika orang berlarian mengejar ketamakan. Mengubah satu menjadi dua, mengubah empat menjadi seratus, berlipat-lipat, hingga kesenjangan pun terjadi.

Mereka simpan di semenanjung samudera,biar abadi hingga tujuh generasi. Tapi jutaan yang lain menatap sedi, merugi.

Biarkan masa sekarang hidup menyendiri, sehingga masa depan tak kena imbasnya. Biarkan air hulu mengalir, hingga hilir pun merasakan jernihnya.

Seseorang tiba-tiba memecah pikirannya. "Mereka sudah menanti, menanti kau sapa," kata orang itu.

Ia pun beranjak dari kursi. Berjalan gontai dengan kaki ketiganya. Menelan pil pahit masa lalu.

Selasa, 11/4/17, dini hari, Kp. Gedong

Sunday, 9 April 2017

Just Do It

Orang bilang bisnis itu butuh tekad, perjuangan, dan kreatif. Banyak juga yang bilang, bisnis itu tidak harus menggunakan modal yang banyak. Modal bisa dicari, dan bisa diakal-akali.

Apakah benar? Jawabannya ada saat kita sedang dan sudah melaksanakannya.

JUST DO IT. Don't think too much. Think big, think fast, think ahead. Ya, kata-kata ini yang kusuka.

9 April, '17, Kp Gedong

Friday, 28 October 2016

Begitu

Menatap manis penuh makna

Lebarnya senyum yang kau torehkan

Meski dia hanya manusia biasa

Berjalan di atas kerikil penuh gairah

Terus memandang dengan matamu yang berbinar

Aku sungguh tak kuasa, terkadang

Melihat seseorang sepertimu

Hati yang tetap teguh, berupaya menembus ruang kegelapan

Aku tak tahu bagaimana nanti

Bagiku, ini sebuah perjalanan yang takkan ada habisnya

Kadang kau bosan, kadang kau akan tunjukan rasa tak suka

Aku tak pintar, aku tak seperti siapapun

Suatu saat, aku akan berbuat salah

Dan kau, mungkin akan bicara panjang lebar, tentang harusnya aku

Aku masih tak seperti yang kau harapkan

Tapi kau ingin harapanmu tentangku terlaksana

Hampanya ruangku, luasnya ruangmu

Dan kau, terus gelorakan ruangmu kepadaku

Sampai ruangku seperti saat ini

Ceria, penuh gelora, senyum yang merekah

Ya, begitulah

Duduklah dahulu, ada saatnya kau akan berdiri

Menerawang celah cahaya

Melangkah, perlahan, di tengah ramai

Pada akhirnya, singgah di jalan semula, tumbuh di ruang yang kita bangun





Saturday, 1 October 2016

Kembali

Tepat pada Sabtu, 1 Oktober 2016, aku kembali ke Jakarta setelah selama satu tahun setengah lebih, bertugas di tanah priangan. Cukup puas aku bertugas di tiga wilayah itu meski ada hal yang luput dari tugasku.

Sekarang, aku terpaksa kembali ke tanah ibu kota yang semrawut ini. Sengaja aku katakan semrawut karena memang adanya demikian. Tidak mengarah dan itu fakta. Bahkan sekarang makin menjadi-jadi.

Itu yang paling aku sesalkan ketika aku dipindahtugaskan di ibu kota. Aku malas menghadapi kondisi yang mengharuskan diri berlama-lama di jalan. Penuh keruwetan. Aku tak bisa membayangkan, berangkat pagi dan pulang malam.